Oleh Gunawan Handoko
TRADISI merayakan hari kelahiran sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Mulai dari meniup lilin agar doa sampai ke langit, sampai berkumpul dan berdoa dengan orang-orang tercinta.
Namun, dibalik semua itu, ada pesan yang lebih tua: bahwa setiap tahun yang lewat adalah amanah, dan setiap tahun yang datang adalah kesempatan. Maka sejatinya bertambahnya usia bukan soal perayaan atau pesta, tapi sebagai pengingat dan renungan bahwa waktu kita di dunia terus berkurang.
Usia seseorang bukan sekadar angka yang bertambah dalam perjalanan waktu. Usia adalah peta tentang bagaimana kita belajar berdiri, jatuh, bangkit, memberi dan menerima. Angka hanya mencatat berapa lama kita menghirup nafas di bumi. Tapi tidak mencatat seberapa dalam kita hidup.
Kita sering dijebak oleh standar tidak tertulis, seperti usia 20-an harus lulus, usia 30-an harus mapan, usia 40-an harus begini dan begitu. Padahal kedewasaan seseorang tidak berjalan lurus dengan kalender.
Ada yang ubannya sudah penuh, tapi masih suka lari dari tanggung jawab. Ada yang usianya muda, tapi jiwanya sudah setua dan sedalam samudera. Tenang, jernih dan berani memikul tanggung jawab.
Maka, usia adalah kronologis mengukur berapa lamanya seseorang bernafas, bukan dalamnya makna. Makna waktu dan warisan yang sebenarnya.
Semakin kesini, kita jadi semakin sadar bahwa waktu tidak pernah bertambah, yang ada justru semakin berkurang. Karena itu kita harus belajar untuk mengurangi hal-hal yang tidak perlu. Mengurangi ambisi yang hanya untuk mendapatkan tepuk tangan dan validasi. Pun halnya mengurangi energi untuk hal yang menguras, bukan mengisi. Termasuk ambisi mengumpulkan harta untuk “warisan” anak cucu.
Orang cerdas dan bijak tidak pernah memiliki ambisi itu. Baginya, warisan paling berharga bukanlah harta, rumah, tanah, atau rekening. Warisan paling berharga utamanya adalah ilmu melalui pendidikan.
Harta bisa habis, sedangkan ilmu dan akhlaq tidak akan pernah lapuk dimakan waktu. Maka, terimalah dengan terbuka semua apa yang kita dapatkan. Selanjutnya mulai menambah. Menambah keheningan, menambah syukur, menambah kebaikan-kebaikan kecil yang nyata. Bukan lagi mengejar pengakuan, tapi mengejar ketenangan. Karena hidup yang panjang tanpa kesadaran, sama halnya dengan berjalan tanpa arah.
Belajar Ikhlas dan Melupakan
Seiring bertambahnya usia, kita juga belajar satu hal penting: Ikhlas. Kita tidak perlu menghitung dan mengingat kebaikan kepada orang lain. Karena seringkali orang memang mudah lupa sejarah. Ada masanya, saat seseorang butuh bantuan, kita diperlakukan seperti raja. Disanjung sampai ke langit, dipuji setinggi-tingginya. Tapi giliran sudah berhasil, semua dilupakan. Alih-alih menunjukkan rasa hormat, untuk sekedar menengok pun rasanya berat. Fenomena seperti ini banyak terjadi. Dan kalau kita terus mengingatnya, yang sakit justru diri kita sendiri. Maka lupakanlah, karena berbuat baik bukan ingin untuk dikenang.
Berbuat baik itu memang jalan yang harus kita pilih. Menuntut orang untuk tahu diri dan berterima kasih sama halnya memenjarakan hati kita sendiri.
Menerima dengan Terbuka
Penuaan tidak perlu kita tolak, dicemaskan dan ditakuti. Setiap waktu yang lewat adalah guru yang mengajarkan tentang mana yang layak diperjuangkan, dan mana yang harus dilepaskan. Waktu mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Ada hal yang cukup didoakan dan diikhlaskan. Usia yang dijalani dengan syukur akan sampai pada satu titik, yakni puncak kematangan.
Di titik itu, gejolak jiwa mereda. Ego mengecil, dan ketulusan semakin membesar. Jadi, berapa pun usia kita hari ini tidak sepenting apa yang kita tinggalkan lewat usia itu.
Dalam menjalani kehidupan, hendaknya selalu berusaha berbuat kebaikan. Jangan hiraukan ucapan orang, karena baik buruknya diri kita tergantung siapa yang bercerita. Karena pada akhirnya, hidup bukan diukur dari berapa lama kita bisa bernafas di dunia. Tapi dari seberapa banyak kebaikan yang bisa kita tabur, meski tidak semua orang mengingatnya.
Bandar Lampung, 25 Agustus 2026.
Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Bandar Lampung.











